Blogroll

» Suara muslimin bersatu. Menyampaikan kebenaran dengan berterus terang, tiada hari tanpa tholabulillmi mengkaji mengaji mencari ridhlo illahi rabbi, Di Pancarluaskan di jalan Tanjung Mulang No 26 Setiaratu Cibeureum Kota Tasikmalaya «

Minggu, 14 Agustus 2016

DICARI....!!!!!SEORANG CALON SUAMI YANG SE SHOLEH INI.

Pada zaman Rasulullah SAW hiduplah seorang pemuda yang bernama Zahid yang berumur 35 tahun namun belum juga menikah. Dia tinggal di Suffah masjid Madinah. Ketika sedang memperkilat pedangnya tiba-tiba Rasulullah SAW datang dan mengucapkan salam. Zahid kaget dan menjawabnya agak gugup.

“Wahai saudaraku Zahid”¦.selama ini engkau sendiri saja,” Rasulullah SAW menyapa.

“Allah bersamaku ya Rasulullah,” kata Zahid.

“Maksudku kenapa engkau selama ini engkau membujang saja, apakah engkau tidak ingin menikah?,” kata Rasulullah SAW.

Zahid menjawab, “Ya Rasulullah, aku ini seorang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap dan wajahku jelek, siapa yang mau denganku ya Rasulullah?”

” Asal engkau mau, itu urusan yang mudah!” kata Rasulullah SAW.

Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan sekretarisnya untuk membuat surat yang isinya adalah melamar kepada wanita yang bernama Zulfah binti Said, anak seorang bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan terkenal sangat cantik jelita. Akhirnya, surat itu dibawah ke rumah Zahid dan oleh Zahid dibawa kerumah Said. Karena di rumah Said sedang ada tamu, maka Zahid setelah memberikan salam kemudian memberikan surat tersebut dan diterima di depan rumah Said.

“Wahai saudaraku Said, aku membawa surat dari Rasul yang mulia diberikan untukmu saudaraku.”

Said menjawab, “Adalah suatu kehormatan buatku.”

Lalu surat itu dibuka dan dibacanya. Ketika membaca surat tersebut, Said agak terperanjat karena tradisi Arab perkawinan yang selama ini biasanya seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan dan yang kaya harus kawin dengan orang kaya, itulah yang dinamakan SEKUFU.

Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, “Wahai saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah?”

Zahid menjawab, “Apakah engkau pernah melihat aku berbohong?.”

Dalam suasana yang seperti itu Zulfah datang dan berkata, “Wahai ayah, kenapa sedikit tegang terhadap tamu ini?. bukankah lebih disuruh masuk?”

“Wahai anakku, ini adalah seorang pemuda yang sedang melamar engkau supaya engkau menjadi istrinya,” kata ayahnya.

Disaat itulah Zulfah melihat Zahid sambil menangis sejadi-jadinya dan berkata, “Wahai ayah, banyak pemuda yang tampan dan kaya raya semuanya menginginkan aku, aku tak mau ayah.!” dan Zulfah merasa dirinya terhina.

Maka Said berkata kepada Zahid, “Wahai saudaraku, engkau tahu sendiri anakku tidak mau, bukan aku menghalanginya dan sampaikan kepada Rasulullah bahwa lamaranmu ditolak.”

Mendengar nama Rasul disebut ayahnya, Zulfah berhenti menangis dan bertanya kepada ayahnya, “Wahai ayah, mengapa membawa-bawa nama rasul?”

Akhirnya Said berkata, “Ini yang melamarmu adalah perintah Rasulullah.”

Maka Zulfah istighfar beberapa kali dan menyesal atas kelancangan perbuatannya itu dan berkata kepada ayahnya, “Wahai ayah, kenapa sejak tadi ayah berkata bahwa yang melamar ini Rasulullah, kalau begitu segera aku harus dikawinkan dengan pemuda ini. Karena ingat firman Allah dalam Al-Qur’an surat 24 : 51. “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan. Kami mendengar, dan kami patuh/taat”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. 24:51)”

Zahid pada hari itu merasa jiwanya melayang ke angkasa dan baru kali ini merasakan bahagia yang tiada tara dan segera pamit pulang. Sampai di masjid ia bersujud syukur. Rasul yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.

“Bagaimana Zahid?”

“Alhamdulillah diterima ya rasul,” jawab Zahid.

“Sudah ada persiapan?”

Zahid menundukkan kepala sambil berkata, “Ya Rasul, kami tidak memiliki apa-apa.”

Akhirnya Rasulullah menyuruhnya pergi ke Abu Bakar, Ustman, dan Abdurrahman bi Auf. Setelah mendapatkan uang yang cukup banyak, Zahid pergi ke pasar untuk membeli persiapan perkawinan. Dalam kondisi itulah Rasulullah SAW menyerukan umat Islam untuk menghadapi kaum kafir yang akan menghancurkan Islam.

Ketika Zahid sampai di masjid, dia melihat kaum Muslimin sudah siap-siap dengan perlengkapan senjata, Zahid bertanya, “Ada apa ini?”

Sahabat menjawab, “Wahai Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita, maka apakah engkau tidak mengerti?”.

Zahid istighfar beberapa kali sambil berkata, “Wah kalau begitu perlengkapan kawin ini akan aku jual dan akan kubelikan kuda yang terbagus.”

Para sahabat menasehatinya, “Wahai Zahid, nanti malam kamu berbulan madu, tetapi engkau hendak berperang?”

Zahid menjawab dengan tegas, “Itu tidak mungkin!”

Lalu Zahid menyitir ayat sebagai berikut, “Jika bapak-bapak, anak-anak, suadara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih baik kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. 9:24).

Akhirnya Zahid (Aswad) maju ke medan pertempuran dan mati syahid di jalan Allah.

Rasulullah berkata, “Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah.”

Lalu Rasulullah membacakan Al-Qur’an surat 3 : 169-170 dan 2:154). “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.(QS 3: 169-170).

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. 2:154).

Pada saat itulah para sahabat meneteskan air mata dan Zulfahpun berkata, “Ya Allah, alangkah bahagianya calon suamiku itu, jika aku tidak bisa mendampinginya di dunia izinkanlah aku mendampinginya di akhirat.”

HIKMAH
Mudah-mudahan bermanfaat dan bisa menjadi renungan buat kita bahwa, “Untuk Allah di atas segalanya, and die as syuhada.”
Jazakumullah.

Kamis, 28 Juli 2016

Turki Bahas Program Mengatasi Krisis Gaza

 Ketua Komite Populer Global Solidaritas Jalur Gaza, Isam Yousef bertemu dengan Wakil Ketua Partai Keadilan dan Pembangunan Yasin Aktay di Istanbul (sumber : Middle East Monitor)

Istanbul (SM Media) - Ketua Komite Populer Global Solidaritas  Jalur Gaza,  Isam Yousef bertemu dengan Wakil Ketua  Partai Keadilan dan  Pembangunan Yasin Aktay di Istanbul. Pertemuan  membahas upaya Turki untuk menyelesaikan krisis Gaza, Middle East Monitor  melaporkan, Rabu 27 Juli.

Masyarakat membicarakan baru-baru ini Turki melakukan pembicaraan  dengan Israel terkait kesepakatan dan prospek memfasilitasi kebutuhan hampir dua juta orang yang tinggal di Gaza.

Yousef mengusulkan beberapa proyek bahwa Turki bisa melaksanakan di daerah kantong dikepung termasuk mendirikan fasilitas ekonomi untuk menyerap sejumlah Palestina pengangguran, selain menginstal sistem panel surya untuk menghasilkan listrik untuk mengatasi krisis energi.

Menurut PalSawa.com, proposal juga termasuk dukungan untuk universitas, rumah sakit, spesialis pelatihan dan mengaktifkan pertukaran komersial.

Yousef menekankan pentingnya seruan terus menerus dari LSM lokal dan internasional untuk mengadili penjahat perang Israel di ICC (International Criminal Court  - Pengadilan Kriminal Internasional) di Den Haag, Belanda.

Red : msa
Sumber : Middle East Monitor

Minggu, 17 Juli 2016

BILAL DAN ADZAN TERAKHIRNYA


Semenjak Rasulullah wafat, Bilal menyatakan bahwa dirinya tidak akan mengumandangkan adzan lagi.
Ketika Khalifah Abu Bakar memintanya untuk menjadi muadzin kembali, dengan hati pilu nan sendu bilal berkata: "Biarkan aku hanya menjadi muadzin Rasulullah saja. Rasulullah telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa lagi."

Abu Bakar pun tak bisa lagi mendesak Bilal untuk kembali mengumandangkan adzan.
Kesedihan sebab ditinggal wafat Rasulullah terus mengendap di hati Bilal. Dan kesedihan itu yang mendorongnya meninggalkan Madinah, dia ikut pasukan Fath Islamy menuju Syam, dan kemudian tinggal di Homs, Syria.

Lama Bilal tak mengunjungi Madinah, sampai pada suatu malam, Rasulullah hadir dalam mimpi Bilal, dan menegurnya: "Ya Bilal, Wa maa hadzal jafa? Hai Bilal, mengapa engkau tak mengunjungiku? Mengapa sampai seperti ini?"

Bilal pun bangun terperanjat, segera dia mempersiapkan perjalanan ke Madinah, untuk ziarah ke makam Rasulullah. Sekian tahun sudah dia meninggalkan Rasulullah.

Setiba di Madinah, Bilal bersedu sedan melepas rasa rindunya pada Rasulullah, pada sang kekasih.
Saat itu, dua pemuda yang telah beranjak dewasa, mendekatinya. Keduanya adalah cucu Rasulullah Hasan dan Husein. Dengan mata sembab oleh tangis, Bilal yang kian beranjak tua memeluk kedua cucu Rasulullah tersebut.

Salah satu dari keduanya berkata kepada Bilal: "Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan untuk kami? Kami ingin mengenang kakek kami."

Ketika itu, Umar bin Khattab yang telah jadi Khalifah juga sedang melihat pemandangan mengharukan itu, dan beliau juga memohon kepada Bilal untuk mengumandangkan adzan, meski sekali saja.
Bilal pun memenuhi permintaan itu.

Saat waktu shalat tiba, dia naik pada tempat dahulu biasa dia adzan pada masa Rasulullah masih hidup.
Mulailah dia mengumandangkan adzan.

Saat lafadz Allahu Akbar dikumandangkan olehnya, mendadak seluruh Madinah senyap, segala aktifitas terhenti, semua terkejut, suara yang telah bertahun-tahun hilang, suara yang mengingatkan pada sosok Nan Agung, suara yang begitu dirindukan itu telah kembali.

Ketika Bilal meneriakkan kata Asyhadu an laa ilaha illallah, seluruh isi kota madinah berlarian ke arah suara itu sambil berteriak, bahkan para gadis dalam pingitan mereka pun keluar.

Dan saat bilal mengumandangkan Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, Madinah pecah oleh tangisan dan ratapan yang sangat memilukan.

Semua menangis, teringat masa-masa indah bersama Rasulullah, Umar bin Khattab yang paling keras tangisnya. Bahkan Bilal sendiri pun tak sanggup meneruskan adzannya, lidahnya tercekat oleh air mata yang berderai. Hari itu madinah mengenang masa saat masih ada Rasulullah diantara mereka.

Hari itu adalah adzan pertama dan terakhir bagi Bilal setelah Rasulullah wafat. Adzan yang tak bisa dirampungkan.

Subhanallah...

kisah diatas ini mampu mencampur adukkan perasaan kita.
Mampu membuat kita menitikkan airmata tanda kecintaan kita kepada Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallaam, sebagaimana cinta kita pula kepada umat Muhammad.

Itulah pentingnya ukhuwah...
karena ukhuwah itu merupakan penanda keimanan kita.
Subhaanallah !

Warga Gaza Rayakan Kegagalan Kudeta Militer Turki

Anak-anak di Gaza Palestina membawa poster Presiden Turki Recep Thayep Erdogan sebagai bentuk dukungan

Gaza (SM Media) - Umat Islam di Gaza pada Sabtu pagi (16/7) menggelar aksi massa besar-besaran untuk merayakan kegagalan kudeta militer Turki beberapa saat sebelumnya. 
 
Aksi yang dipelopori gerakan perlawanan Hamas itu diikuti ribuan orang yang turun ke jalan dengan membawa poster dan foto presiden Turki, Recep Thayep Erdogan, serta bendera Turki sebagai bentuk dukungan kepada pemerintahan yang sah dan kecaman terhadap militer Turki yang berupaya melakukan kudeta terhadap pemerintahnya.
 
Ismael Ridwan, pemimpin Hamas dalam pernyataannya mengatakan, pihaknya menolak upaya kudeta terhadap konstitusi Turki yang sah. Ia mengatakan, rakyat Turki tahu betul siapa yang seharusnya ditentang, dengan turunnya mereka ke jalan-jalan untuk menggagalkan kudeta.
 
Sebelumnya, Hamas telah menyatakan penolakanya terhadap upaya jahat untuk memberangus pilihan demokratis rakyat Turki.
 
Hamas juga mengungkapkan selamat kepada rakyat Turki dan para pemimpinya yang terpilih seperti Erdogan, partainya serta tentara dan keamananya yang telah berhasil melindungi kebebasan. 
 
Ridwan juga mengingatkan tentang sikap Turki dan para pejabatnya yang senantiasa mendukung bangsa Palestina serta berupaya untuk membuka blokade Gaza.
 
red: adhila
sumber: infopalestina
sumber: suaraislam

Minggu, 12 Juni 2016

Habib Rizieq di Simposium Balai Kartini, Mengamankan Pancasila dari PKI

Meski Dijaga Pasukan Israel, Shalat Jumat di Al-Aqsha Diikuti 100 Ribu Jamaah

                     Jemaah shalat Jumat di Masjid Al-Aqsha Palestina
 
Al-Aqsha (SMM) - Meski ribuan pasukan Israel melakukan penjagaan di kota Al-Quds, namun itu tak membuat semangat kaum muslim lemah untuk melaksanakan shalat Jumat pertama di bulan Ramadhan. 
 
Sekitar 100 ribu warga Palestina menunaikan shalat Jumat (10/6) meski Israel menerapkan prosedur keamanan ketat di kota Al-Quds, terutama di Kota Lama tempat, tempat adanya Masjid Al-Aqsha.
 
Pasukan Israel membangun perlintasan-perlintasan militer di jalan-jalan menutu Kota Lama dan melakukan pemeriksaan ketat identitas penduduk dan jamaah.
 
Khatib Masjid Al-Aqsha Syekh Yusuf Abu Asninah memberikan ucapan selamat atas hadirnya bulan Ramadhan dan bisa shalat di masjid Al-Aqsha meski banyak derita dan pesakitan akibat Israel mengalangi mereka.
 
Ia juga menyebutkan dalam khutbahnya tentang kelemahan umat Islam yang mendorong Israel penjajah menguasai tanah Palestina. ia mengajak umat Islam berpegang teguh dengan agama Allah karena itu jalan menunju kemuliaan dan kekuasaan kembali Islam.
 
Ia mengajak umat Islam agar menarik datanya dari bank-bank Eropa karena mereka mendukung Israel.
 
Khatib Al-Aqsha juga mengajak membebaskan tawanan dari penjara Israel dan mengajak warga Palestina bersabar dan terus bertahan.
 
red: adhila
sumber: infopalestina