Blogroll
Senin, 19 September 2016
Minggu, 14 Agustus 2016
DICARI....!!!!!SEORANG CALON SUAMI YANG SE SHOLEH INI.
Pada zaman Rasulullah SAW hiduplah seorang pemuda yang bernama Zahid
yang berumur 35 tahun namun belum juga menikah. Dia tinggal di Suffah
masjid Madinah. Ketika sedang memperkilat pedangnya tiba-tiba Rasulullah
SAW datang dan mengucapkan salam. Zahid kaget dan menjawabnya agak
gugup.
“Wahai saudaraku Zahid”¦.selama ini engkau sendiri saja,” Rasulullah SAW menyapa.
“Allah bersamaku ya Rasulullah,” kata Zahid.
“Maksudku kenapa engkau selama ini engkau membujang saja, apakah engkau tidak ingin menikah?,” kata Rasulullah SAW.
Zahid
menjawab, “Ya Rasulullah, aku ini seorang yang tidak mempunyai
pekerjaan tetap dan wajahku jelek, siapa yang mau denganku ya
Rasulullah?”
” Asal engkau mau, itu urusan yang mudah!” kata Rasulullah SAW.
Kemudian
Rasulullah SAW memerintahkan sekretarisnya untuk membuat surat yang
isinya adalah melamar kepada wanita yang bernama Zulfah binti Said,
anak seorang bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan terkenal
sangat cantik jelita. Akhirnya, surat itu dibawah ke rumah Zahid dan
oleh Zahid dibawa kerumah Said. Karena di rumah Said sedang ada tamu,
maka Zahid setelah memberikan salam kemudian memberikan surat tersebut
dan diterima di depan rumah Said.
“Wahai saudaraku Said, aku membawa surat dari Rasul yang mulia diberikan untukmu saudaraku.”
Said menjawab, “Adalah suatu kehormatan buatku.”
Lalu
surat itu dibuka dan dibacanya. Ketika membaca surat tersebut, Said
agak terperanjat karena tradisi Arab perkawinan yang selama ini
biasanya seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan dan
yang kaya harus kawin dengan orang kaya, itulah yang dinamakan SEKUFU.
Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, “Wahai saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah?”
Zahid menjawab, “Apakah engkau pernah melihat aku berbohong?.”
Dalam
suasana yang seperti itu Zulfah datang dan berkata, “Wahai ayah,
kenapa sedikit tegang terhadap tamu ini?. bukankah lebih disuruh masuk?”
“Wahai anakku, ini adalah seorang pemuda yang sedang melamar engkau supaya engkau menjadi istrinya,” kata ayahnya.
Disaat
itulah Zulfah melihat Zahid sambil menangis sejadi-jadinya dan
berkata, “Wahai ayah, banyak pemuda yang tampan dan kaya raya semuanya
menginginkan aku, aku tak mau ayah.!” dan Zulfah merasa dirinya terhina.
Maka
Said berkata kepada Zahid, “Wahai saudaraku, engkau tahu sendiri
anakku tidak mau, bukan aku menghalanginya dan sampaikan kepada
Rasulullah bahwa lamaranmu ditolak.”
Mendengar nama Rasul
disebut ayahnya, Zulfah berhenti menangis dan bertanya kepada ayahnya,
“Wahai ayah, mengapa membawa-bawa nama rasul?”
Akhirnya Said berkata, “Ini yang melamarmu adalah perintah Rasulullah.”
Maka
Zulfah istighfar beberapa kali dan menyesal atas kelancangan
perbuatannya itu dan berkata kepada ayahnya, “Wahai ayah, kenapa sejak
tadi ayah berkata bahwa yang melamar ini Rasulullah, kalau begitu segera
aku harus dikawinkan dengan pemuda ini. Karena ingat firman Allah
dalam Al-Qur’an surat 24 : 51. “Sesungguhnya jawaban orang-orang
mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar rasul
menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan. Kami mendengar, dan
kami patuh/taat”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS.
24:51)”
Zahid pada hari itu merasa jiwanya melayang ke
angkasa dan baru kali ini merasakan bahagia yang tiada tara dan segera
pamit pulang. Sampai di masjid ia bersujud syukur. Rasul yang mulia
tersenyum melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.
“Bagaimana Zahid?”
“Alhamdulillah diterima ya rasul,” jawab Zahid.
“Sudah ada persiapan?”
Zahid menundukkan kepala sambil berkata, “Ya Rasul, kami tidak memiliki apa-apa.”
Akhirnya
Rasulullah menyuruhnya pergi ke Abu Bakar, Ustman, dan Abdurrahman bi
Auf. Setelah mendapatkan uang yang cukup banyak, Zahid pergi ke pasar
untuk membeli persiapan perkawinan. Dalam kondisi itulah Rasulullah SAW
menyerukan umat Islam untuk menghadapi kaum kafir yang akan
menghancurkan Islam.
Ketika Zahid sampai di masjid, dia
melihat kaum Muslimin sudah siap-siap dengan perlengkapan senjata,
Zahid bertanya, “Ada apa ini?”
Sahabat menjawab, “Wahai Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita, maka apakah engkau tidak mengerti?”.
Zahid
istighfar beberapa kali sambil berkata, “Wah kalau begitu perlengkapan
kawin ini akan aku jual dan akan kubelikan kuda yang terbagus.”
Para sahabat menasehatinya, “Wahai Zahid, nanti malam kamu berbulan madu, tetapi engkau hendak berperang?”
Zahid menjawab dengan tegas, “Itu tidak mungkin!”
Lalu
Zahid menyitir ayat sebagai berikut, “Jika bapak-bapak, anak-anak,
suadara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu
usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah
tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih baik kamu cintai daripada
Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai
Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk
kepada orang-orang fasik.” (QS. 9:24).
Akhirnya Zahid (Aswad) maju ke medan pertempuran dan mati syahid di jalan Allah.
Rasulullah berkata, “Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah.”
Lalu
Rasulullah membacakan Al-Qur’an surat 3 : 169-170 dan 2:154).
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu
mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki.
Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya
kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang
masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka dan tidak (pula)
mereka bersedih hati”.(QS 3: 169-170).
“Dan janganlah kamu
mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa
mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu
tidak menyadarinya.” (QS. 2:154).
Pada saat itulah para
sahabat meneteskan air mata dan Zulfahpun berkata, “Ya Allah, alangkah
bahagianya calon suamiku itu, jika aku tidak bisa mendampinginya di
dunia izinkanlah aku mendampinginya di akhirat.”
HIKMAH
Mudah-mudahan bermanfaat dan bisa menjadi renungan buat kita bahwa, “Untuk Allah di atas segalanya, and die as syuhada.”
Jazakumullah.
Kamis, 28 Juli 2016
Turki Bahas Program Mengatasi Krisis Gaza
Ketua Komite Populer Global Solidaritas Jalur
Gaza, Isam Yousef bertemu dengan Wakil Ketua Partai Keadilan dan
Pembangunan Yasin Aktay di Istanbul (sumber : Middle East Monitor)
Istanbul (SM Media) - Ketua Komite Populer Global Solidaritas Jalur Gaza, Isam Yousef bertemu dengan Wakil Ketua Partai Keadilan dan Pembangunan Yasin Aktay di Istanbul. Pertemuan membahas upaya Turki untuk menyelesaikan krisis Gaza, Middle East Monitor melaporkan, Rabu 27 Juli.
Masyarakat membicarakan baru-baru ini Turki melakukan pembicaraan dengan Israel terkait kesepakatan dan prospek memfasilitasi kebutuhan hampir dua juta orang yang tinggal di Gaza.
Yousef mengusulkan beberapa proyek bahwa Turki bisa melaksanakan di daerah kantong dikepung termasuk mendirikan fasilitas ekonomi untuk menyerap sejumlah Palestina pengangguran, selain menginstal sistem panel surya untuk menghasilkan listrik untuk mengatasi krisis energi.
Menurut PalSawa.com, proposal juga termasuk dukungan untuk universitas, rumah sakit, spesialis pelatihan dan mengaktifkan pertukaran komersial.
Yousef menekankan pentingnya seruan terus menerus dari LSM lokal dan internasional untuk mengadili penjahat perang Israel di ICC (International Criminal Court - Pengadilan Kriminal Internasional) di Den Haag, Belanda.
Red : msa
Sumber : Middle East Monitor
Minggu, 17 Juli 2016
BILAL DAN ADZAN TERAKHIRNYA
Semenjak Rasulullah wafat, Bilal menyatakan bahwa dirinya tidak akan mengumandangkan adzan lagi.
Ketika Khalifah Abu Bakar memintanya untuk menjadi muadzin kembali, dengan hati pilu nan sendu bilal berkata: "Biarkan aku hanya menjadi muadzin Rasulullah saja. Rasulullah telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa lagi."
Ketika Khalifah Abu Bakar memintanya untuk menjadi muadzin kembali, dengan hati pilu nan sendu bilal berkata: "Biarkan aku hanya menjadi muadzin Rasulullah saja. Rasulullah telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa lagi."
Abu Bakar pun tak bisa lagi mendesak Bilal untuk kembali mengumandangkan adzan.
Kesedihan sebab ditinggal wafat Rasulullah terus mengendap di hati Bilal. Dan kesedihan itu yang mendorongnya meninggalkan Madinah, dia ikut pasukan Fath Islamy menuju Syam, dan kemudian tinggal di Homs, Syria.
Lama Bilal tak mengunjungi Madinah, sampai pada suatu malam, Rasulullah hadir dalam mimpi Bilal, dan menegurnya: "Ya Bilal, Wa maa hadzal jafa? Hai Bilal, mengapa engkau tak mengunjungiku? Mengapa sampai seperti ini?"
Bilal pun bangun terperanjat, segera dia mempersiapkan perjalanan ke Madinah, untuk ziarah ke makam Rasulullah. Sekian tahun sudah dia meninggalkan Rasulullah.
Setiba di Madinah, Bilal bersedu sedan melepas rasa rindunya pada Rasulullah, pada sang kekasih.
Saat itu, dua pemuda yang telah beranjak dewasa, mendekatinya. Keduanya adalah cucu Rasulullah Hasan dan Husein. Dengan mata sembab oleh tangis, Bilal yang kian beranjak tua memeluk kedua cucu Rasulullah tersebut.
Salah satu dari keduanya berkata kepada Bilal: "Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan untuk kami? Kami ingin mengenang kakek kami."
Ketika itu, Umar bin Khattab yang telah jadi Khalifah juga sedang melihat pemandangan mengharukan itu, dan beliau juga memohon kepada Bilal untuk mengumandangkan adzan, meski sekali saja.
Bilal pun memenuhi permintaan itu.
Saat waktu shalat tiba, dia naik pada tempat dahulu biasa dia adzan pada masa Rasulullah masih hidup.
Mulailah dia mengumandangkan adzan.
Saat lafadz Allahu Akbar dikumandangkan olehnya, mendadak seluruh Madinah senyap, segala aktifitas terhenti, semua terkejut, suara yang telah bertahun-tahun hilang, suara yang mengingatkan pada sosok Nan Agung, suara yang begitu dirindukan itu telah kembali.
Ketika Bilal meneriakkan kata Asyhadu an laa ilaha illallah, seluruh isi kota madinah berlarian ke arah suara itu sambil berteriak, bahkan para gadis dalam pingitan mereka pun keluar.
Dan saat bilal mengumandangkan Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, Madinah pecah oleh tangisan dan ratapan yang sangat memilukan.
Semua menangis, teringat masa-masa indah bersama Rasulullah, Umar bin Khattab yang paling keras tangisnya. Bahkan Bilal sendiri pun tak sanggup meneruskan adzannya, lidahnya tercekat oleh air mata yang berderai. Hari itu madinah mengenang masa saat masih ada Rasulullah diantara mereka.
Hari itu adalah adzan pertama dan terakhir bagi Bilal setelah Rasulullah wafat. Adzan yang tak bisa dirampungkan.
Subhanallah...
kisah diatas ini mampu mencampur adukkan perasaan kita.
Mampu membuat kita menitikkan airmata tanda kecintaan kita kepada Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallaam, sebagaimana cinta kita pula kepada umat Muhammad.
Itulah pentingnya ukhuwah...
karena ukhuwah itu merupakan penanda keimanan kita.
Subhaanallah !
Warga Gaza Rayakan Kegagalan Kudeta Militer Turki
Anak-anak di Gaza Palestina membawa poster Presiden Turki Recep Thayep Erdogan sebagai bentuk dukungan
Gaza (SM Media) - Umat Islam di Gaza pada Sabtu
pagi (16/7) menggelar aksi massa besar-besaran untuk merayakan kegagalan
kudeta militer Turki beberapa saat sebelumnya.
Aksi yang dipelopori gerakan perlawanan Hamas itu diikuti ribuan
orang yang turun ke jalan dengan membawa poster dan foto presiden Turki,
Recep Thayep Erdogan, serta bendera Turki sebagai bentuk dukungan
kepada pemerintahan yang sah dan kecaman terhadap militer Turki yang
berupaya melakukan kudeta terhadap pemerintahnya.
Ismael Ridwan, pemimpin Hamas dalam pernyataannya mengatakan,
pihaknya menolak upaya kudeta terhadap konstitusi Turki yang sah. Ia
mengatakan, rakyat Turki tahu betul siapa yang seharusnya ditentang,
dengan turunnya mereka ke jalan-jalan untuk menggagalkan kudeta.
Sebelumnya, Hamas telah menyatakan penolakanya terhadap upaya jahat untuk memberangus pilihan demokratis rakyat Turki.
Hamas juga mengungkapkan selamat kepada rakyat Turki dan para
pemimpinya yang terpilih seperti Erdogan, partainya serta tentara dan
keamananya yang telah berhasil melindungi kebebasan.
Ridwan juga mengingatkan tentang sikap Turki dan para pejabatnya
yang senantiasa mendukung bangsa Palestina serta berupaya untuk membuka
blokade Gaza.
red: adhila
sumber: infopalestina
sumber: suaraislam
Minggu, 12 Juni 2016
Meski Dijaga Pasukan Israel, Shalat Jumat di Al-Aqsha Diikuti 100 Ribu Jamaah
Jemaah shalat Jumat di Masjid Al-Aqsha Palestina
Al-Aqsha (SMM) - Meski ribuan pasukan Israel
melakukan penjagaan di kota Al-Quds, namun itu tak membuat semangat
kaum muslim lemah untuk melaksanakan shalat Jumat pertama di bulan
Ramadhan.
Sekitar 100 ribu warga Palestina menunaikan shalat Jumat (10/6)
meski Israel menerapkan prosedur keamanan ketat di kota Al-Quds,
terutama di Kota Lama tempat, tempat adanya Masjid Al-Aqsha.
Pasukan Israel membangun perlintasan-perlintasan militer di
jalan-jalan menutu Kota Lama dan melakukan pemeriksaan ketat identitas
penduduk dan jamaah.
Khatib Masjid Al-Aqsha Syekh Yusuf Abu Asninah memberikan ucapan
selamat atas hadirnya bulan Ramadhan dan bisa shalat di masjid Al-Aqsha
meski banyak derita dan pesakitan akibat Israel mengalangi mereka.
Ia juga menyebutkan dalam khutbahnya tentang kelemahan umat Islam
yang mendorong Israel penjajah menguasai tanah Palestina. ia mengajak
umat Islam berpegang teguh dengan agama Allah karena itu jalan menunju
kemuliaan dan kekuasaan kembali Islam.
Ia mengajak umat Islam agar menarik datanya dari bank-bank Eropa karena mereka mendukung Israel.
Khatib Al-Aqsha juga mengajak membebaskan tawanan dari penjara Israel dan mengajak warga Palestina bersabar dan terus bertahan.
red: adhila
sumber: infopalestina
Langganan:
Postingan (Atom)


